Kegiatan Deputi 4


Beranda | | Halaman Berita

Dokumentasi

Kemenko Perekonomian dan World Bank Hadirkan Paviliun Indonesia: “Working Across Sector and Ministries for a Comprehensive Landscape Approach” di COP 28 Dubai

Tanggal: 2023-12-03

Kemenko Perekonomian dan World Bank Hadirkan Paviliun Indonesia: “Working Across Sector and Ministries for a Comprehensive Landscape Approach” di COP 28 Dubai

Dalam menjalankan komitmen nyata terhadap isu perubahan iklim global, Indonesia secara berkelanjutan memperlihatkan tekad yang kokoh. Dalam hal ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dalam kolaborasinya dengan Bank Dunia, menggelar dengan megah sesi Paviliun Indonesia bertajuk "Working Across Sector and Ministries for a Comprehensive Landscape Approach" dalam rangkaian acara COP 28 di Dubai. Dalam forum diskusi tersebut, para narasumber menyajikan wawasan mendalam mengenai komitmen kokoh Indonesia dalam mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030, aspirasi menuju net zero pada tahun 2060 dan FOLU Net Sink 2030. Adapun sesi diskusi ini dibuka dengan sambutan oleh Elen Setiadi selaku Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi, Kementerian Koordinator Perekonomian. Dengan acara dipandu oleh Dida Gardera selaku Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebagai moderator. Selain itu, banyak narasumber yang hadir antara lain, Vivi Yulaswati selaku Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam dari Bappenas, Agus Justianto selaku Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian LHK, Su McCluskey selaku Special Representative for Australian Agriculture, Andreas Dahl-Jørgensen selaku Director of Norway’s International Climate and Forest Initiative (NICFI) dan Deputy Director General pada Norway’s Ministry of Climate and Environment dan Franka Braun selaku Lead Environmental Specialist World Bank. Dalam konteks ini, tantangan dalam pengelolaan sektor lanskap menjadi faktor yang meningkatkan kerentanan iklim di Indonesia, dengan penyebaran degradasi tanah, lahan, air, dan udara yang meluas. Potensi dampaknya mencakup penurunan produktivitas pertanian, peningkatan risiko banjir, kenaikan permukaan air laut, serta kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan. Konsekuensinya, dampak lingkungan ini berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca Indonesia, dimana sektor Agriculture, Forest, and Other Land Uses (AFOLU) menyumbang 50 persen dari total emisi negara. Semua ini menciptakan tekanan yang substansial pada komitmen NDC 2030 Indonesia, dan menekankan perlunya pemulihan ekonomi yang bukan hanya berkelanjutan tetapi juga berorientasi ekonomi hijau. Pemerintah Indonesia, dengan tegas, berkomitmen untuk mencapai target NDC 2030 serta ambisi net sink 2030 dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Guna meraih tujuan tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengadopsi pendekatan lanskap berkelanjutan, mengatasi penggunaan dan manajemen lahan serta sumber daya alam yang tidak efisien dengan mengakui dan menghargai tujuan ekonomi, lingkungan, dan sosial yang bersaing dari berbagai pemangku kepentingan. Sebagaimana diketahui, Indonesia telah mengukuhkan komitmennya dalam aksi iklim, dan pada COP 27 tahun lalu, berhasil mengajukan target NDC yang ditingkatkan sebesar 31,9 persen dibawah Business as Usual (BAU) pada tahun 2030, dan dengan dukungan internasional, mencapai 43,2 persen. Angka ini mencerminkan peningkatan lebih dari 2 persen dibandingkan dengan NDC sebelumnya. Indonesia menunjukkan komitmen yang kuat dalam menghadapi tantangan isu perubahan iklim, menjadikannya landasan yang kokoh untuk mencapai tujuan NDC 2030 dan aspirasi net zero 2060. Pentingnya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan dan implementasi kebijakan di lingkup Kementerian menjadi kunci sukses dalam menggerakkan roda perubahan. Dengan langkah-langkah konkret dan sinergi yang terus diperkuat, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung upaya global dalam mengatasi perubahan iklim serta keberlanjutan ekonomi dan lingkungan yang seimbang.