Kegiatan Deputi 4


Beranda | | Halaman Berita

Dokumentasi

Pemerintah Pastikan Pengembangan Energi Terbarukan Tak Ganggu Ketahanan Pangan

Tanggal: 2025-12-08

Pemerintah Pastikan Pengembangan Energi Terbarukan Tak Ganggu Ketahanan Pangan

Pemerintah menegaskan bahwa pengembangan energi terbarukan tidak akan mengganggu pasokan pangan masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, dalam diskusi panel bertajuk “Kedaulatan Energi dan Pangan di Tengah Gejolak Politik Dunia” pada rangkaian BIG Conference 2025 di Hotel Raffles, Jakarta, Senin (8/12). Elen menjelaskan bahwa pengembangan bioenergi diarahkan pada pemanfaatan bahan baku non-pangan, seperti Used Cooking Oil (UCO) untuk bioavtur serta molasses, produk samping industri gula, untuk bioetanol. Langkah ini dilakukan guna memastikan keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan nasional. “Pemerintah menjamin keseimbangan ketahanan energi dan ketahanan pangan melalui pengaturan pasokan bahan baku serta penerapan tata kelola bioenergi yang berbasis keberlanjutan,” ujar Elen. Dalam kesempatan tersebut, Elen juga menegaskan bahwa ketahanan energi nasional tetap dapat dicapai seiring pelaksanaan transisi energi hijau. Namun, transisi tersebut tidak dilakukan dengan meninggalkan energi fosil secara drastis, mengingat sektor tersebut masih menjadi bagian penting dari struktur sumber daya energi Indonesia. Pemanfaatan energi fosil ke depan akan diarahkan pada penerapan teknologi yang lebih bersih dan efisien untuk menekan emisi karbon. Sebagai upaya menurunkan emisi, khususnya pada sektor industri hard to abate, pemerintah mendorong penerapan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS). Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi karbon dan industri strategis masa depan, seperti solar photovoltaic, bio-SAF, baterai, kendaraan listrik, hidrogen, dan nikel. Potensi tersebut telah menarik minat kerja sama dari sejumlah negara, antara lain Singapura, Korea Selatan, dan Jepang, khususnya dalam pengelolaan dan penyimpanan karbon. Elen juga menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen serta inflasi yang terkendali secara year-on-year sebesar 2,72 persen. Kondisi ini menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8 persen sebagaimana arahan Presiden, dengan sektor energi sebagai salah satu mesin utama penggerak ekonomi. Diskusi panel tersebut dimoderatori oleh Abra Talattov, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), serta menghadirkan panelis Moshe Rizal, Ketua Komite Investasi Aspermigas sekaligus Managing Partner PPIE Investment, dan Zulfan Zahar, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).